CARA MUDAH MEMBUAT PUPUK FERMENTASI BERKUALITAS

Cara Mudah Membuat Pupuk Fermentasi Berkualitas

Sahabat petani di seluruh Indonesia, kali ini kita akan membahas cara pembuatan pupuk kandang fermentasi. Bahan baku utamanya adalah kotoran kambing (srintil) boleh ditambahkan dengan bahan organik lainnya seperti bekatul atau arang sekam. Disarankan untuk bahan baku tetap menggunakan kotoran kambing karena dirasa kualitasnya lebih bagus dibandingkan dengan pupuk kandang yang lain, seperti kotoran sapi atau ayam, apalagi ayam cenderung banyak penyakit atau virus. Selain itu ada penambahan kapur dolomit sebelum disiram dengan larutan M-21 Dekomposer.

Setelah dicampur kemudian akan dilakukan proses “ungkep” supaya tercampur rata dan maksimal. Kapur yang akan di campurkan bisa digunakan secukupnya sesuai dengan takaran petani atau setiap 50 karung pupuk kandang dicampur dengan campuran bahan organik seperti bekatul atau arang sekam dan juga kapur dolomit dan larutan M-21 Dekomposer. Kemudian ditindih atau ditambah lagi dengan 50 karung pupuk kandang yang sudah dicampur sama seperti sebelumnya hingga bahan habis. Dalam waktu 15-30 hari pupuk kandang yang sudah difermentasi bisa siap kemas.

Prosesnya mudah tidak perlu banyak membuang waktu dan tenaga. Diharapkan petani bisa lebih kreatif dan lebih produktif dalam menjaga lahan masing-masing dengan menggunakan pupuk yang sudah difermentasi. Ketika pupuk kandang sudah difermentasi mulai dari cendawan, amonia atau jamur-jamur yang terkandung di pupuk kandang sudah steril sehingga aman untuk digunakan di lahan. Menjaga lahan supaya tetap subur dan gembur juga tidak menimbulkan masalah ketika tanaman sudah masuk masa pertumbuhan.

Kalau petani awam cenderung menggunakan pupuk kandang tanpa difermentasi terlebih dahulu langsung di aplikasikan ke lahan. Diakhir tanaman akan terkena layu fusarium atau penyakit-penyakit jamur lainnya. Trik melakukan fermentasi pada pupuk kandang ini sedikit bisa membantu petani di Indonesia untuk lebih banyak belajar, mulai dari persiapan lahan, penambahan pupuk kandang dll. Dari awal sudah menghindarkan atau meminimalisir adanya jamur, amonia patogen yang bisa menyebabkan kerugian.

Setelah 15-30 hari aroma pupuk kandang atau aroma kotoran kambingnya sudah hilang. Aromanya berubah menjadi lebih gurih, karena sebelum difermentasi bisa dicampur dengan larutan gula atau tetes tebu sebagai molasenya atau bisa dengan leri beras atau air pupusan beras. Di daerah tulungagung sendiri sudah ada toko yang menyediakan pupuk kandang yang sudah di fermentasi sehingga petani tidak perlu repot melakukan fermentasi sendiri. Untuk pengemasan pun sudah dilakukan dengan baik seperti dimasukkan kedalam kantong plastik terlebih dahulu baru dikemas dengan karung. Sehingga kelembapan terjaga dan pupuk kandang fermentasi bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama.

Rata-rata petani-petani yang memerlukan pupuk kandang fermentasi cenderung petani yang menanam tanaman hortikultara, seperti cabe, bawang merah, melon, semangka dll. Diwaktu pengolahan perlu adanya tambahan bahan organik karena kondisi pertanian sekarang ini, khususnya dilahan pertanian semakin lama cenderung semakin sedikit kandungan organik tanahnya. Sehingga yang terjadi kandungan residu kimianya yang dominan. Akhirnya pertumbuhan tanaman kurang maksimal, mudah terserang penyakit, virus dll. Karena imun tanaman sudah lemah dari awal, disebabkan oleh nutrisi organik dari tanah yang kurang. Pupuk kandang organik ini bisa menjadi solusi tepat untuk petani yang dirasa tanamannya susah berkembang karena faktor organik tanahnya kurang.

Bisa dibedakan hasil tanaman yang diawal diberikan pupuk kandang fermentasi dengan yang tidak diberikan pupuk kandang fermentasi. Pasti akan ada perbedaan yang signifikan. Selain itu jika diawal sudah diberikan pupuk kandang fermentasi, efek baiknya akan panjang. Seperti penggunaan pupuk-pupuk tambahan lainnya akan lebih hemat dan bisa ditekan karena tanah sudah memberikan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan.

Penggunaan pupuk kandang fermentasi bisa berpengaruh pada hasil panen, tanaman awet segar, contohnya tanaman melon. Tanaman melon yang menggunakan pupuk full kimia cenderung pada umur 55 hari daunnya akan menguning. Sedangkan tanaman melon yang menggunakan pupuk kandang fermentasi walaupun sudah dipanen pun, daun tetap segar berwarna hijau. Daya simpan panennya pun berbeda, perlu dicatat bahwa yang digunakan harus pupuk kandang yang sudah difermentasi, bukan pupuk kandang yang belum difermentasi.

Bukan untuk menggurui, namun saling belajar dan sharing antar petani. Mudah-mudahan petani semua semakin sejahtera dan hasil panennya semakin bagus.

Temukan Kami di :

Facebook : biotogrow

Youtube : PUPUK ORGANIK PROBIOTIK

Website : www.agroprobiotik.com

Instagram:  www.instagram.com/nutrisi_organik_pro

biotik

 

 

Related posts

Leave a Comment